Literasivirtual.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan tidak hanya menghasilkan asap tebal yang mengganggu jarak pandang, tetapi juga menyebarkan racun berbahaya bagi tubuh manusia.
Ancaman paling berbahaya dari asap karhutla berasal dari polutan mikroskopis yang dikenal sebagai PM2.5 (Particulate Matter dengan ukuran diameter 2,5 mikron atau kurang) yaitu partikel sangat halus yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru.
Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis paru (pulmonolog) yang bertugas di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Provinsi Kalimantan Tengah, dr. Putri Wulandari Harahap, M.Ked(Paru), Sp.P kepada literasivirtual.com via gawai, Kamis (3 September 2026).
Selain PM 2.5, asap karhutla juga mengandung karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), ozon, VOC, dan senyawa hidrokarbon seperti PAH. Komposisinya dapat berbeda tergantung bahan yang terbakar dan kondisi pembakarannya.
“PM2.5 menjadi perhatian utama karena dapat mencapai bagian terdalam paru dan memicu peradangan, batuk, mengi, serta sesak, terutama pada anak-anak dan pasien dengan asma atau PPOK,” ucapnya.
Kelompok yang paling rentan mengalami dampak berat akibat kabut asap adalah anak-anak, terutama yang masih kecil, lansia, ibu hamil, serta orang yang sudah memiliki penyakit paru seperti asma/ppok atau jantung, dan penyakit kronis lainnya.
Pada kelompok tersebut, asap dapat lebih mudah memicu serangan asma, perburukan PPOK, sesak berat, gangguan jantung, hingga kebutuhan untuk dirawat di rumah sakit.
Risiko pada anak juga perlu diperhatikan karena paru-parunya masih berkembang, sedangkan pada lansia kemampuan tubuh untuk menghadapi stres akibat polusi sudah menurun.
Selain itu, pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan dan petugas pemadam atau orang yang berada dekat dengan sumber kebakaran itu juga berisiko tinggi karena paparannya jauh lebih besar.
Sehingga ketika kualitas udara sedang buruk, kelompok-kelompok ini harus menjadi prioritas untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari paparan asap sebanyak mungkin.
Paparan asap karhutla yang berulang dan berlangsung lama harus diwaspadai. Sebab, paparan polusi partikel dalam jangka panjang diketahui dapat meningkatkan resiko penurunan fungsi paru dan PPOK, terutama pada orang yang terpapar terus-menerus.
“Untuk kanker paru, PM2.5 sendiri sudah diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker paru pada paparan polusi udara jangka panjang,” terangnya.
Namun, untuk mengatakan bahwa asap karhutla secara langsung menyebabkan PPOK atau kanker paru pada seseorang, pihaknya masih perlu melihat banyak faktor lain seperti lamanya dan berat paparan, kebiasaan merokok, pekerjaan, usia, serta faktor lingkungan lainnya. Bukti khusus mengenai dampak jangka panjang asap karhutla sendiri masih terus berkembang di dunia kedokteran.
Pada pasien asma, PPOK, atau bronkitis kronis, asap dapat mempersempit dan meradang saluran napas sehingga batuk, mengi, dan sesak lebih mudah kambuh. Bahkan bisa terjadi eksaserbasi yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Karena itu, kelompok ini memang harus menjadi prioritas untuk menghindari paparan asap ketika kualitas udara sedang buruk.
“Kasus eksaserbasi pada PPOK dan asma sudah banyak terjadi belakangan, baik di pelayanan rawat jalan atau rawat inap di rumah sakit saya,” ungkapnya.
Ia menyarankan apabila tiba-tiba mengalami sesak saat kabut asap pekat, langkah pertama adalah segera menjauh dari sumber asap dan masuk ke ruangan dengan udara yang lebih bersih. Bisa duduk dalam posisi nyaman dan jangan melakukan aktivitas fisik.
Kalau pasien memang mempunyai asma atau PPOK dan sudah mendapatkan obat inhaler dari dokter, maka gunakan obat pelega sesuai aturan. Jangan mencoba mengobati sendiri dengan antibiotik atau obat lain yang tidak diresepkan.
Kalau tersedia, bisa periksa saturasi oksigen dengan pulse oximeter. Tetapi jangan hanya bergantung pada angka saturasi, kondisi dan beratnya sesak juga harus diperhatikan.
Yang paling penting, pasien segera ke IGD bila sesak berat atau semakin memburuk, sulit berbicara atau berjalan karena sesak, bibir tampak kebiruan, muncul nyeri dada, penurunan kesadaran, atau obat pelega tidak membantu. Jangan menunggu sampai kondisi semakin berat.
“Jadi prinsip pertolongan pertamanya sederhana, jauhkan dari asap, istirahat, gunakan obat yang memang sudah diresepkan, dan kenali tanda bahaya,” katanya.
Kemudian apabila kualitas udara sudah masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, terutama bila kabut asap sangat pekat, jarak pandang menurun, atau rumah tidak mampu menyediakan udara yang cukup bersih, maka evakuasi atau berpindah sementara ke lokasi dengan kualitas udara lebih baik perlu dipertimbangkan.
Pada kondisi AQI ≥301, misalnya, kualitas udara dikategorikan hazardous dan berpotensi berdampak pada semua orang.
Lebih penting, jangan menunggu angka AQI jika sudah muncul gejala. Bila seseorang mengalami sesak yang tidak membaik, mengi berat, nyeri dada, kebingungan, penurunan kesadaran, atau kondisi memburuk terutama anak, lansia, ibu hamil, atau pasien asma dan PPOK, segera pindah ke tempat dengan udara yang lebih bersih dan mencari pertolongan medis.
“Kita jangan menganggap kabut asap ini sebagai sesuatu yang normal setiap tahun. Pemerintah perlu memperkuat pencegahan, pemantauan kualitas udara, sistem peringatan dini, dan kesiapan pelayanan kesehatan,” terangnya.
Ia berharap masyarakat juga harus berperan dengan mengurangi paparan dan melindungi kelompok rentan. Karena menurutnya sebagai seorang pulmonologist, mencegah orang jatuh sakit tentu jauh lebih baik daripada mengobati ketika sudah sakit. (Red)




