Barito Selatan

Dinkes Barsel Ungkap Lonjakan Kasus Infeksi Paru-paru di Tengah Kabut Asap

×

Dinkes Barsel Ungkap Lonjakan Kasus Infeksi Paru-paru di Tengah Kabut Asap

Sebarkan artikel ini
dr. Dadang Baskoro Nugroho, Sp.PD., FINASIM, saat menyampaikan keterangan pers (red)

Literasivirtual.com, Buntok – Kasus pneumonia atau infeksi paru-paru di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir, bertepatan dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap menyelimuti wilayah tersebut.

Peningkatan kasus ini menjadi perhatian serius, mengingat paparan kabut asap dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barsel yang juga menjabat sebagai Plt. Direktur RSUD Jaraga Sasameh Buntok, dr. Dadang Baskoro Nugroho, Sp.PD., FINASIM, saat menyampaikan keterangan pers terkait penanganan karhutla di Kantor BPBD Barsel, Jumat (16/10/2026).

Dadang mengungkapkan, peningkatan kasus pneumonia mulai terlihat pada Juli dan terus berlanjut hingga September 2026.

“Kasus pneumonia itu terjadi peningkatan di bulan Juli, Agustus, dan September,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang disampaikan, jumlah pasien pneumonia yang menjalani rawat inap mengalami kenaikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Pada Januari, jumlah pasien tercatat sebanyak 62 orang, kemudian 45 orang dan 51 orang pada bulan-bulan berikutnya.

Memasuki Juli, jumlah pasien meningkat menjadi 110 orang. Angka tersebut kembali naik pada Agustus dengan 114 pasien, lalu mencapai 136 pasien pada September. Sementara itu, hingga Oktober, tercatat 20 pasien. Secara keseluruhan, jumlah pasien yang menjalani rawat inap tersebut mencapai 724 orang berdasarkan data yang dipaparkan.

Ia menjelaskan, kondisi kabut asap yang terjadi saat ini berpotensi memperburuk gangguan kesehatan, termasuk memicu infeksi saluran pernapasan yang lebih serius. Salah satunya adalah pneumonia, yang perlu mendapat perhatian karena dapat berkembang menjadi kondisi berat.

Selain pneumonia, paparan asap juga dapat memperburuk penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan asma bronkial, terlebih jika disertai infeksi. Risiko komplikasi juga meningkat pada pasien yang memiliki penyakit penyerta, seperti diabetes dan penyakit jantung.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena penyakit bawaan dapat memperberat keadaan pasien ketika mengalami gangguan pernapasan.

“Ada faktor komorbid, ada faktor penyakit-penyakit sebelumnya. Itu akan menyebabkan suatu kondisi sehingga terjadi perburukan dan bisa menjadi penyebab kematian seseorang,” jelasnya.

Di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla yang masih menjadi ancaman, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dan mengurangi paparan asap, terutama bagi kelompok rentan serta mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis. (Red)