Literasivirtual.com – Rencana penyelenggaraan kegiatan EXPO oleh Pemerintah Kabupaten Barito Selatan (Barsel), di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian masyarakat.
Di saat berbagai pihak masih berjibaku menangani ancaman karhutla serta dampak asap, muncul pertanyaan mengenai kelayakan pelaksanaan kegiatan yang berpotensi menghadirkan banyak orang tersebut.
Penyelenggaraan EXPO pada dasarnya dapat menjadi sarana untuk mendorong perekonomian daerah, memperkenalkan produk UMKM, serta menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha dan masyarakat. Namun, pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Padahal, Pemerintah Daerah Barsel sendiri telah memperpanjang status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan selama 30 hari, mulai 14 September 2026 kemarin.
Karhutla tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat menyebabkan penurunan kualitas udara akibat paparan asap. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Karena itu, sebelum kegiatan dilaksanakan, pemerintah daerah dan panitia perlu memastikan kondisi kualitas udara, lokasi kegiatan, serta situasi karhutla di sekitar wilayah penyelenggaraan.
Jika kondisi udara masih aman dan tidak terdapat larangan dari pihak berwenang, kegiatan EXPO masih dapat dilaksanakan dengan menerapkan langkah mitigasi. Namun, apabila kualitas udara memburuk atau terdapat rekomendasi penghentian kegiatan dari instansi terkait, penundaan atau perubahan konsep kegiatan perlu menjadi pertimbangan.
Selain persoalan kesehatan, aspek kepatutan juga menjadi perhatian. Ketika masyarakat sedang menghadapi dampak karhutla, kegiatan berskala besar yang mengumpulkan massa perlu dikemas secara sensitif agar tidak menimbulkan kesan bahwa persoalan kebencanaan diabaikan.
EXPO bahkan dapat diarahkan menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya karhutla. Selain kegiatan ekonomi dan promosi produk daerah, panitia dapat menyediakan ruang edukasi mengenai pencegahan karhutla, bahaya pembakaran lahan, perlindungan kesehatan dari asap, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan demikian, keputusan mengenai pelaksanaan EXPO seharusnya tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi dan agenda kegiatan, tetapi juga keselamatan masyarakat serta kondisi kebencanaan yang sedang berlangsung. (Red)

