Profil

Kisah Wendy Penjual Es Doger Pengarang Cerita Berbahasa Daerah

×

Kisah Wendy Penjual Es Doger Pengarang Cerita Berbahasa Daerah

Sebarkan artikel ini
Wendy bersama gerobak dagangannya (ist)

Literasivirtual.com – Bagi sebagian warga Buntok, Kabupaten Barito Selatan, sosok pria yang satu ini tentu sudah tak asing lagi. Namanya Wendy. Sehari-hari, ia dikenal sebagai pedagang es doger yang setia menjajakan dagangannya kepada masyarakat. Namun, di balik kesederhanaan aktivitasnya itu, Wendy ternyata memiliki cerita yang cukup menarik.

Selain berjualan es doger, ia juga menekuni olahraga catur dan memiliki kegemaran membuat cerita di media sosial menggunakan bahasa daerah, yakni bahasa Banjar.

Perpaduan antara pedagang es doger, pecinta catur, dan penulis cerita berbahasa Banjar inilah yang membuat sosok Wendy menarik untuk lebih dikenal. Dari melayani pembeli hingga menuangkan cerita di media sosial, ada sisi lain dari kesehariannya yang mungkin belum banyak diketahui orang.

Es doger dagangan Wendy (red)

Berawal dari usaha kecil-kecilan pada Tahun 2018, perlahan es doger yang dijualnya mulai memiliki pelanggan sendiri. Bukan hanya soal jualan, perjalanan selama bertahun-tahun itu juga menghadirkan banyak cerita.

“Yang paling berkesan adalah ketika melihat pelanggan datang kembali dan membawa teman atau keluarganya,” ungkapnya.

Bagi dirinya, pelanggan yang kembali membeli bukan sekadar soal keuntungan. Ada rasa bangga ketika seseorang masih mengingat rasa es doger yang dijualnya, bahkan setelah lama tidak bertemu. Apalagi ketika pelanggan mengatakan bahwa rasa es doger tersebut sudah mereka kenal sejak dulu.

Hal-hal sederhana seperti itulah yang justru menjadi penyemangat untuk terus mempertahankan usahanya.

Terkait gemar membuat cerita, hobi tersebut mulai ditekuni sejak 2019. Awalnya, ia mengikuti kelas online belajar menulis melalui sebuah aplikasi yang ia sebut sebagai “aplikasi biru”. Dari sana, ketertarikannya terhadap dunia menulis semakin tumbuh.

Ia mulai menuangkan berbagai ide dan pengalaman dalam bentuk cerita. Lama-kelamaan, kegiatan tersebut tidak lagi sekadar aktivitas iseng, tetapi berubah menjadi salah satu hobi yang terus dinikmati.

Yang membuatnya berbeda, cerita-cerita tersebut banyak menggunakan bahasa daerah. Baginya, bahasa daerah bukan hanya sesuatu yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa daerah juga bisa menjadi bahan untuk menghasilkan karya yang menghibur.

Ia biasanya mengangkat cerita tentang kehidupan sehari-hari, pengalaman masyarakat, humor, budaya, hingga berbagai kejadian yang dekat dengan kehidupan orang-orang di daerah. Kadang ceritanya dibuat serius, tetapi tidak jarang pula dikemas dengan humor agar lebih ringan dibaca.

“Saya ingin membuat cerita yang menghibur sekaligus membuat orang kembali mengenal bahasa daerahnya,” tuturnya.

Menurutnya, setiap bahasa daerah memiliki keunikan. Ada istilah, gaya bicara dan cara penyampaian tertentu yang justru membuat sebuah cerita terasa lebih hidup ketika disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat.

Beberapa cerita yang dibuatnya ternyata mendapat respons cukup baik dari masyarakat. Ada yang meninggalkan komentar, membagikan cerita, bahkan ikut menceritakan pengalaman mereka sendiri.

Bagi dirinya, respons seperti itu menjadi kebahagiaan tersendiri. Sebab, tujuan membuat cerita bukan semata-mata mengejar perhatian, tetapi juga ingin menghadirkan sesuatu yang dekat dengan pembaca. Dari situlah muncul semangat untuk terus berkarya.

Ia melihat bahasa daerah sebagai bagian penting dari identitas dan budaya masyarakat. Menurutnya, jika tidak dikenalkan kepada generasi muda, bukan tidak mungkin penggunaan bahasa daerah semakin berkurang seiring perkembangan zaman.

Karena itu, ia berharap anak-anak muda tidak merasa malu menggunakan bahasa daerah. Justru sebaliknya, generasi muda diharapkan bisa bangga dan menemukan cara baru untuk memperkenalkannya.

Bahasa daerah, menurutnya, bisa diperkenalkan melalui video, musik, konten media sosial atau berbagai karya kreatif lainnya.

“Yang penting bahasa dan budaya daerah tetap dikenal dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Dari satu sisi, ia dikenal sebagai penjual es doger yang berusaha mempertahankan rasa dan kualitas dagangannya. Di sisi lain, ia adalah seseorang yang menikmati dunia cerita dan mencoba membawa bahasa daerah masuk ke ruang kreativitas.

Dua aktivitas tersebut mungkin terlihat berbeda. Satu berkaitan dengan rasa, satu lagi berkaitan dengan kata-kata. Namun, keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama berusaha mempertahankan sesuatu yang dekat dengan masyarakat.

Bye the way, sepertinya saya (penulis artikel ini) merasa tersaingi. Peace!. (Red)