Opini

Ketika Kritik Jurnalis Dianggap Membenci

×

Ketika Kritik Jurnalis Dianggap Membenci

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi seorang reporter sedang mewawancarai narasumber (Generasi AI)

Literasivirtual.com – Kebebasan pers merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan demokrasi. Melalui pemberitaan, jurnalis tidak hanya menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan publik.

Sebelum terjun di dunia jurnalistik dan pada saat aktif di organisasi intra kampus, kami selalu dituntut untuk berpikir kritis.

Namun, dalam praktiknya. Kritik yang disampaikan terkadang justru dipahami sebagai bentuk kebencian personal. Sebab ketika sebuah kritik menyoroti kekurangan, mempertanyakan kebijakan, atau mengungkap persoalan tertentu, tidak jarang jurnalis dituduh memiliki kepentingan pribadi terhadap pihak yang diberitakan.

Padahal sebagai jurnalis, ia memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang relevan bagi masyarakat serta dapat mengajukan pertanyaan kritis, meminta klarifikasi, serta menyoroti persoalan yang menyangkut kepentingan publik.

Situasi semacam ini menimbulkan pertanyaan penting: Apakah setiap kritik yang tidak menyenangkan harus dianggap sebagai kebencian?

Sebuah pemberitaan yang mempertanyakan kinerja, transparansi, pelayanan publik, atau penggunaan kewenangan, misalnya, dapat dimaksudkan untuk mendorong perbaikan. Fokusnya adalah persoalan yang perlu dijelaskan dan diselesaikan, bukan menjatuhkan harga diri seseorang.

Memang, kritik yang disampaikan secara terbuka terkadang terasa tidak nyaman. Terlebih bagi pihak yang menjadi sorotan. Namun, rasa tidak nyaman tidak serta-merta membuktikan bahwa jurnalis memiliki niat buruk.

Jurnalis yang menjalankan fungsi kontrol sosial terkadang dinilai sebagai pembenci, pencari masalah, atau pihak yang sengaja ingin menjatuhkan seseorang.

Jika hal ini terus terjadi, ruang dialog antara pers dan pihak yang diberitakan dapat semakin menyempit. Kritik yang seharusnya menjadi bahan evaluasi justru berubah menjadi persoalan personal.

Oleh sebab itu, jurnalis juga perlu memastikan bahwa setiap kritik memiliki dasar yang jelas dan disampaikan dengan bahasa yang proporsional. Di sisi lain, pihak yang menerima kritik juga perlu menilai isi pemberitaan secara objektif, bukan semata-mata berdasarkan siapa yang menyampaikannya.

Perlu diingat, pers yang menjalankan fungsi kontrol sosial secara bertanggung jawab dan pihak yang bersedia menerima kritik secara dewasa memiliki tujuan yang sama: mendorong kehidupan publik yang lebih transparan, adil, dan terus membangun. (Red)