Palangka Raya

Merasa Dilecehkan saat Manggung, Vokalis Band R.A.S.Y.A Laporkan Terduga Pelaku

×

Merasa Dilecehkan saat Manggung, Vokalis Band R.A.S.Y.A Laporkan Terduga Pelaku

Sebarkan artikel ini

Literasivirtual.com, Palangka Raya – Seorang vokalis perempuan di Grup Band Lokal Palangka Raya, R.A.S.Y.A resmi melaporkan seorang musisi bernama Ain Nasriko (Ain Koto) ke Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah (Polda Kalteng) atas dugaan tindak pidana pelecehan seksual non-verbal.

Pelaporan ini dipicu oleh insiden pelecehan yang terjadi saat korban tengah tampil dalam sebuah acara amal penggalangan dana untuk korban Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), di sebuah warung Kopi (Kopi Teja) di kota Palangka Raya, Kalteng pada Minggu (20 September 2026) malam.

Kuasa hukum korban, Jefriko Seran, menjelaskan bahwa insiden memalukan itu bermula saat vokalis tersebut bernama Natasya sedang bernyanyi di atas panggung.

Tiba-tiba, pelaku menaruh sebuah pakaian dalam wanita di tiang lirik (stand lyric) yang sedang digunakan korban saat sedang tampil.

Tindakan tersebut disertai dengan sorakan, makian kasar terkait lagu yang dibawakan, dan tawa yang sengaja dilakukan untuk mempermalukan korban di depan umum.

“Korban merasa sangat terintimidasi, kecewa, dan dilecehkan. Korban merasa ditertawakan dan dijadikan seperti badut. Sehabis dikasih pakaian dalam itu, beliau langsung menangis,” ungkap Jefriko kepada awak media saat menangani pelaporan korban di Polda Kalteng, Selasa (22 September 2026) kemarin.

Jefriko menegaskan, langkah hukum terpaksa ditempuh lantaran tidak adanya iktikad baik maupun permohonan maaf secara langsung dari pihak pelaku semenjak kejadian.

Pelaku justru diduga mencari pembenaran atas tindakannya dan berupaya mengintimidasi pihak korban.

Laporan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) ini merujuk pada pelanggaran Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) Nomor 12 Tahun 2022, khususnya Pasal 4 dan Pasal 5.

“Perempuan dan musisi di Kalteng harus dilindungi, apalagi mereka sedang membantu masyarakat menggalang dana Karhutla, namun malah dilecehkan. Kalau ini tidak ditindak tegas, nanti akan berkelanjutan dan begitu gampangnya orang melecehkan perempuan,” tegas Jefriko.

Natasya sendiri mengaku sangat kaget karena tidak mengenal pelaku secara pribadi. Ia berusaha menahan emosinya untuk tetap profesional menyelesaikan lagu, sebelum akhirnya turun ke area parkir (basecamp) dan menangis.

“Saya kaget orang itu tiba-tiba memberikan sebuah celana dalam celana dalam kepada saya, di situ tuh saya bagaimana saya caranya saya bisa mengontrol emosi saya agar tidak terjadi sesuatu yang mungkin lebih besar lagi, jadi saya tetap lanjut untuk melanjutkan penampilan saya sampai selesai dan saat selesai itu baru pecah rasanya emosi saya,” ungkap Natasya.

Rekan band korban, Wahyudi, juga membantah keras terkait adanya dalih dari pelaku yang menyebut bahwa melempar pakaian dalam ke panggung adalah bagian dari kultur musik keras (Hard Rock) Gigs, atau punk.

“Faktanya di musik acara punk itu tidak ada kultur yang begitu. Musiknya memang keras, tapi kesopanan dan adat istiadat tetap dijaga. Narasi itu cuma pembenaran bagi mereka sendiri,” ujar Wahyudi.

Insiden ini mendapat kecaman dan memantik keprihatinan luas dari kalangan musisi. Pihak korban mengaku telah menerima banyak dukungan moril dari musisi lokal Kalimantan Tengah hingga level nasional, termasuk dari gitaris grup band Geisha.

Saat ini, pihak pelapor menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada aparat kepolisian guna menindak tegas pelaku, yang diketahui berusia 19 tahun dan ironisnya juga berstatus sebagai salah satu musisi pengisi acara di kegiatan amal tersebut. (Red)